Saturday, July 23, 2011

Khutbah Rasulullah Menyambut Ramadhan

“Wahai manusia, sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yg paling utama.

Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tetamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan shiyam dan membaca Kitab-Nya.

Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu, kelaparan dan kehausan di hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fuqara dan masakin. Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang muda, sambungkanlah tali persaudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarnya. Kasihilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu.

Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu shalatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih; Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya dan mengabulkan doa mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.

Wahai manusia! Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa)-mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu.

Ketahuilah, Allah Ta’ala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengadzab orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri di hadapan Rabbal-alamin.

Wahai manusia, barangsiapa di antaramu memberi buka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu.

(Seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, tidaklah kami semua mampu berbuat demikian.” Rasulullah meneruskan khotbahnya, “Jagalah dirimu dari api neraka walau pun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walau pun hanya dengan seteguk air.”)

Wahai manusia, siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini, ia akan berhasil melewati Sirathal Mustaqim pada hari ketika kaki-kaki tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari kiamat. Barangsiapa menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.

Barangsiapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakanya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.

Barangsiapa melakukan shalat sunat di bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barangsiapa melakukan shalat fardu baginya ganjaran seperti melakukan 70 shalat fardu di bulan lain.

Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Quran pada bulan-bulan yang lain.

Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah agar ia tak lagi pernah menguasaimu.”

(Aku –Ali bin Abi Thalib yang meriwayatkan hadits ini– berdiri dan berkata, “Ya Rasulullah, apa amal yang paling utama di bulan ini?” Jawab Nabi, “Ya Abal Hasan, amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah”.)

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2007/08/224/khutbah-rasulullah-menyambut-ramadhan/

Tuesday, June 28, 2011

Cabaran Akan Menyuburkan Keimanan

Kehidupan ini sememangnya tidak boleh dipisahkan daripada cabaran, masalah, dugaan, pancaroba, mehnah dan tribulasi serta perkara-perkara yang sedaerah dengannya. Seperti cinta, cabaran juga merupakan fitrah kepada kehidupan seorang manusia. Tiada manusia yang hidup tanpa cabaran, ujian dan masalah.

Lain orang lain cabarannya, lain umur lain masalahnya, lain jantina lain dugaannya, lain jawatan lain tribulasinya. Semua manusia akan menghadapi masalah, walaupun dia bersembunyi di dalam tanah, walaupun dia lari ke hujung bima sakti, walaupun dia berkubu di sebalik besi. Masalah dengan kehidupan itu fitrah. ALLAH memang akan menurunkan ujian kepada kita.

Sebenarnya, kalau kita kembali kepada ALLAH, ALLAH s.w.t. itu tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Dia juga tidak akan memberikan kita dugaan, cabaran, ujian dengan sengaja tanpa matlamat dan tujuan. Sebagai Mukmin yang yakin dan bersangka baik kepada ALLAH, maka kita perlu mengambil segala cabaran dan ujian dalam kehidupan kita sebagai batu loncatan untuk memperkuatkan iman kita.

ALLAH s.w.t. berfirman dalam surah al-‘Ankabut, ayat 1-3 yang bermaksud:
“Alif lam mim, adakah manusia itu mengira bahawa mereka akan dibiarkan sahaja untuk berkata, kami telah beriman, sedangkan mereka itu belum diuji lagi? Sesungguhnya Kami telah menguji orang sebelum mereka, maka sesungguhnya ALLAH itu mengetahui orang yang benar dan sesungguhnya Dia jua mengetahui orang yang berdusta.”

Ya... kalau kita lihat apa yang ALLAH firmankan itu, segala mehnah dan tribulasi yang kita hadapi sepanjang kehidupan kita, adalah untuk melihat sama ada kita ini menterjemahkan iman kepada-Nya atau tidak. ALLAH ingin melihat sama ada kita ini benar beriman kepda-Nya atau tidak kerana orang yang beriman kepada ALLAH dengan sebenar-benar keimanan, akan berdiri teguh menongkah kehidupan dengan cara yang diredhai ALLAH s.w.t.

Ketika berhadapan dengan segala cabaran, jika kita memilih untuk berputus asa, mengalah, atau memilih untuk menyelesaikannya dengan cara yang salah, sebenarnya kita telah menentang hakikat keimanan kita, yakni tunduk dan patuh beribadah kepada ALLAH.

Sebenarnya banyak manusia yang cuba lari daripada cabaran, dugaan , ujian dan sebagainya. Ada juga yang memilih jalan mudah dengan menamatkan nyawa. Semua ini menunjukkan taraf iman seseorang manusia. Ujian itu hadir untuk melihat sama ada kita benar dengan iman kita atau tidak.

Justeru, kenapa perlu takut dengan cabaran? Hidup memang akan ada cabaran. Malah sebenarnya cabaran itu akan menunggu kita. Jika kita tidak suka pun, cabaran tetap akan datang mengiringi kehidupan kita. Jadi apa yang perlu kita lakukan ialah bertenang dan positif dengan cabaran.

Percaya dan yakin kepada ALLAH s.w.t. itu perlu dibina sebab dalam ujian itu terselit hikmah-Nya. Apabila kita percaya ALLAH, ALLAH akan membantu kita untuk melalui ujian itu. Hal ini demikian kerana tujuan ujian adalah untuk melihat sama ada iman kita kepada ALLAH itu benar atau sekadar kata-kata sahaja.

Kembara Hamba Mencari Cahaya

Saturday, June 11, 2011

Jangan Bersedih! Sesungguhnya Allah Bersama Kita


Apabila kita asyik termenung
memikirkan nasib diri di sini...
merenung jauh mereka di sana
hidup penuh keseronokan dan kegembiraan...
namun, kita masih tak sedar tentang hakikat
erti kebahagiaan yang sebenarnya...

Ramai orang...
tersalah sangka tentang maksud
ketenangan dalam hidupnya
selalu orang mengaitkan ketenangan itu
dengan faktor harta...
dengan faktor kekayaan...
Walaupun itu boleh jadi penyumbang
tetapi itu bukan segala-galanya

Betapa ramai orang yang berada dalam rumah yang besar
tidur di atas katil yang empuk
tetapi dia tidak lebih enak ataupun lenanya tidak nyenyak
Bahkan ada orang yang tidur di pondok buruk
kadang-kadang dia lebih lena dari kita

Ada orang yang berada di hadapannya hidangan yang hebat
lauk-pauk yang bagus
tetapi lidahnya tidak enak
lebih enak lagi orang yang makan kadang-kadang dengan
satu dua mata lauk...
tetapi dia lebih sedap dan selesa makannya
Kata Hamka: "lihatlah bagaimana Allah membahagi-bahagikan nikmat"

Semua orang sangka kalau orang itu ada rumah besar
ada makanan yang sedap
tentulah hidupnya bahagia dan tenang
Belum tentu!

[Tiada siapa mampu menghalang ketetapan Allah]

Jika Allah hendak memnberikan kebahagiaan kepada seseorang
Dia tidak boleh ditahan oleh apa-apa tangan sekalipun
Jika Allah menghalang kebahagiaan kepada seseorang
Dia tidak boleh dihulur oleh apa-apa tangan sekalipun
Jika Allah uruskan urusan kita
dan Allah tidak serahkan diri kita kepada kita
walaupun sekelip mata
dunia boleh berbuat apa-apa
tetapi mereka tidak boleh mencabar kebesaran kerajaan Allah
Jika Allah mengatur untuk kita apa yang orang sangka tewas
kita akan melihat kemenangan dari sisi Allah

Apa yang orang rasa rugi
Allah akan berikan keuntungan yang mana
jalan-jalan manusia tak sangka
tetapi Allah boleh mewujudkan keajaiban dalam kehidupan

[Apabila kita asyik mengeluh setiap kali ditimpa musibah...]

Tuan-tuan tengoklah dunia ni
kadang-kadang tuan-tuan
manusia dia hilang suatu benda ini daripada dunia
kadang-kadang macam dia hilang segala-galanya
saya nak sebut tuan-tuan
berapa banyak dalam hidup tuan-tuan telah melalui keperitan hidup?
Cuba ingat!
Ketika kita kena keperitan,
kita rasa kita tidak dapat keluar daripadanya
Tapi hari ini Allah telah keluarkan kita berada dalam keadaan yang baik

Ketika kita ditimpa musibah tertentu
Kita kata: "habislah aku kali ni"
tapi usia kita telah berjalan
Kita masih lagi hidup dan makan dan menikmati kurniaan Tuhan ini
Ketika kita kata: "Ya Allah... tolonglah aku,
Ya Allah... tolonglah aku, aku susah ya Allah"
hari ni kita pun telah lupa akan perkataan itu
dan kita lupa kadang-kadang untuk bersyukur
di atas pelbagai ranjang hidup yang telah Allah keluarkan kita daripadanya

Orang-orang yang diberitahu kepada mereka
"Nun, orang ramai sedang berkumpul untuk ambil tindakan kepada kau"
"Nun, orang nak ambil tindakan kepada hang"
"Nun, orang nak ambil tindakan kepada kau"
"Nun, ada orang nak bertindak kepada kau"
Kata Allah: "iman dia tambah"
Bukan kita kata: "pasal apalah Allah benci aku? Apalah dosa aku?"
Tidak, tidak!
Kata Quran: "iman mereka bertambah"
Mereka kata: حسبنا الله ونعم الوكيل"
"Cukuplah bagi kami, Allah...
Dialah sebaik-sebaik tempat diserahkan urusan"
(آل عمران: 173)

[Pengalaman sering mematangkan kita]

Siapa yang tidak melaluinya tidak akan memahami maksudnya
Orang-orang yang pernah hidup dan bertawakkal
dia akan mengetahui tentang keajaiban bertawakkal
Bila hati insan bulat kepada Ya Rabb
إني فَوَّضْتُ هذا الأمر إليك
Ya Allah... aku serahkan urusan ini kepadaMu ya Allah

[Kita sering lupa, kita masih punya kehidupan di akhirat]

Apabila insan melihat dunia daripada dimensi akhirat
dia akan merasakan dunia ini sangat kecil
kehidupan ini sangat luas
Nabi sebut di dalam hadis yang diriwayatkan oleh imam Muslim
Allah bawa pada hari akhirat, manusia yang paling derita dalam dunia ini
Saya tak tahu manusia paling derita di dalam dunia ini
Allah ambil dia, Allah masukkan dia ke dalam syurga
Dia dimasukkan, dicelupkan masuk ke dalam syurga
kemudian dia dikeluarkan lalu ditanyanya:
"Wahai fulan, adakah kau pernah rasa derita dalam hidup?"
Dia kata: "tak! Aku tak pernah derita pun dalam hidup ini"
Hanya kerana masuk sekelip mata di dalam syurga, lupa cerita derita
Allah ambil manusia yang paling nikmat dalam dunia ini
Segala yang nikmat, Allah masukkan dia secelup sahaja ke dalam neraka
lalu dikeluarkan dia
"Pernahkah kau merasai nikmat dalam hidup ini?"
Dia kata: "tak! aku tak pernah ada nikmat pun dalam hidup ini"
Hanya dengan satu celupan sahaja ke dalam neraka
Manusia lupa segala kisah nikmat dalam hidupnya

[Masihkah kita teringat akan nikmat yang Allah berikan selama ini?]

Kita selalu nak bersyukur kalau kita diberi benda baru
dan kita lupa bahawasanya apa yang ada pada kita ini suatu nikmat yang besar
Satu hamba Allah
yang patah kakinya
yang dia tidak pernah pun sebut
dulu barangkali tak pernah teringat tentang nikmat kaki yang setiap hari dia pijak
Tapi apabila satu hari dia sakit kaki
Dia kata: "Ya Allah... bagilah balik kaki aku, sembuhkanlah balik"
Dia tahu besarnya nikmat kaki, nikmat tangan, nikmat sihat
Kata Hamka: "Yang ada ini sudah harapan kita"
Yang kita ada ini harapan kita
Tetapi insan...
bukan salah untuk kita mengharapkan yang belum ada
tetapi jangan lupa yang telah ada

[Bersyukurlah wahai diri ini...]

Sebab itu sebahagian para sarjana menyebut
Syukur kadang kala makamnya lebih tinggi daripada sabar
Ramai orang terpaksa sabar
tapi belum tentu orang yang dapat nikmat itu bersyukur
Bila dia susah nak kata apa?
"Sabar je la, nak buat apa?"
Tapi untuk jadikan orang yang memiliki harta seperti tuan-tuan
syukur di atas nikmat
اللهم ما أصبح بي من نعمة أو بأحد من خلق
فمنك وحدك لا شريك لك فلك الحمد ولك الشكر
"Ya Allah... apa saja yang aku alami
daripada nikmatMu, daripada kurniaan daripada sesiapa di kalangan hambaMu
tidak ada daripada sesiapa melainkan daripada Engkau wahai Tuhan
bagi Engkaulah pujian, bagi Engkaulah kesyukuran.
Subhanallah...!

Insan, jika dia nak bersyukur kepada Allah, tak terdaya
وإن تعدوا نعمة الله لا تحصوها : إبراهيم: 34
Jika kamu hendak menghitung nikmat Allah, kamu tak mampu
Tuan-tuan... bila kita melihat hidup ini secara keseluruhan
kita akan rasa ma syaa Allah hidup ini
apa yang Allah kurniakan kepada kita
lebih dari harapan kita sebenarnya
Kalau tuan-tuan ingat daripada hari tuan-tuan dilahirkan
tempat tuan-tuan dilahirkan
rumah tuan-tuan dilahirkan
sehingga tempat tuan-tuan ada pada hari ini
Ma syaa Allah...!
Tak dapat nak diucapkan berapa kali nak sebut pun tak mampu

[Firman Allah yang bermaksud:]

"Ketika orang-orang yang kafir itu mengeluarkan dia
ketika dia salah seorang dari dua, dia dan Abu Bakar
yakni Nabi dan Abu Bakar
Ketika mereka berada di dalam gua (sewaktu peristiwa hijrah)
Ketika dia berkata kepada sahabatnya
لا تحزن إن الله معنا
"Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita"
(التوبة: 40)


[Petikan dari ceramah: Mencari Sakinah, Dr. MAZA, 1 Nov 2009]

Rujukan:
http://salafus-sholih.blogspot.com/2011/02/jangan-bersedih-sesungguhnya-allah.html

Sunday, May 22, 2011

"Selesaikan Urusan Kita Dengan Allah, Allah Akan Selesaikan Urusan Kita"

“Seronokkan berkumpul macam ni. Kalau duduk seorang diri, merana kan..”, kata seorang muslimah bertudung labuh.

Merana bukan kerana di makan serigala, tetapi kerana tidak mampu mengawal nafsu dalam diri. Seronok dengan hidup sendiri. Tak sedar ada yang memerhati.

Rata-rata kita biasa mendengar:

Seekor biri-biri bila bersendirian sambil enak menikmati sarapan 'rumput hijau' tentu sahaja akan diterkam serigala dengan mudahnya.

Tahukah kita, pernah berlaku peristiwa pada suatu zaman yang ibaratnya seperti ini:
"Serigala tidak makan biri-biri malah menjaga biri-biri itu"

Zaman apakah itu?

Itulah zaman Khalifah Umar Abdul Aziz
Seorang Khalifah Islam
Keturunan Sayyidina Umar Al-Khattab

Ajaib...
Kenapa serigala boleh berada disisi biri-biri?

Kata kuncinya: "KEADILAN PEMERINTAH"
Sifar kemiskinan
Zakat diamalkan mengikut syari'at
Hidup aman harmoni tiada rompakan
Rakyat ta'at dan baik tanpa sengketa

Apakah rahsianya?
Umar Abdul Aziz ada jawapannya:
"Aku menyelesaikan urusan aku dengan Allah terlebih dahulu, maka Allah menyelesaikan urusanku dengan rakyat kerajaanku."

Kita bagaimana?
Menjaga rakyat jauh sekali
Menjaga diri masih tergapai-gapai
Hendakkan diri berjaya
Hendakkan keluarga harmoni
Inginkan hidup bermakna
Tapi...
Cara apa yang telah kita guna?

"Adakah kita telah selesaikan urusan kita dengan Allah?"

Rasulullah bersabda:
"Jagalah Allah, nescaya Allah akan menjaga kamu"

Semoga tip yang diberikan oleh khalifah Umar Abdul Aziz ini memberi pedoman untuk kita ikuti.

Saturday, May 21, 2011

Ciri-ciri Keluarga Muslim

Gambar Hiasan

Dalam proses untuk mencapai matlamat yang terbesar iaitu keredhaan Allah swt dan bagi menghasilkan Fardi Muslim maka proses yang keduanya ialah untuk melahirkan Al-bait Al muslim (keluarga Muslim.)

Keluarga Muslim yang kita kehendaki ialah satu keluarga atau rumah di mana suami isteri memahami dan mengetahui hak-hak mereka berdua dan iltizam dengan hak- hak dan tanggungjawab-tanggungjawab tersebut. Untuk mencapai Al Bait Muslim itu maka proses yang berikutnya perlu dilaksanakan.

i) Ihsan Tarbiyyah Aulad – Baik dalam pendidikan anak-anak dan juga pembantu rumah. Kita membentuk mereka dengan Mabdak Islam.

ii) Menjaga adab adab Islam dalam semua aspek kehidupan dalam kehidupan rumahtangga. Isteri misali ialah sepertimana yang telah di sebutkan oleh Allah SWT tentang sifat-sifat mereka sebagai pilihan kepada junjungan kita Rasulluualh SAW . Firman Allah SWT :

” Jika nabi menceraikan kamu boleh jadi Tuhannya akan memberi gantinya dengan isteri-isteri yang lebih baik daripada kamu,yang patuh ,yang beriman yang taat yang bertaubat yang mengerjakan ibadat yang berpuasa ataupun yang berhijrah yang janda atau yang perawan. “
( Surah at Tahrim : 5 )

Ini adalah sifat sifat yang telah di tetapkan oleh Allah kepada wanita wanita sebagai persediaan sebagai isteri. Tidak kira samaada dia itu masih janda atau anak gadis. Sifat-sifat yang tersebut adalah sifat-sifat isteri muslim.Sifat-sifat ini meliputi semua aspek dan lengkap.

Kita dapati sama sekali tidak tercapai muslimah seorang isteri muslim yang taat dan patuh kepada Allah swt melainkan dia seorang yang soleh. Iaitu sepertimana yang di sebut oleh Allah s.w.t:

” Kaum lelaki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh kerana Allah telah melebihkan sebahagian mereka (lelaki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan kerana mereka (lelaki) telah menafkahkan sebahagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang soleh itu ialah yang taat kepada Allah swt lagi memelihara diri disebalik pembelakangan suaminya , oleh kerana Allah telah memelihara mereka. Wanita-wanita yang kamu khuatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkan mereka di tempat tidur mereka dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar “
(Surah An-Nisaa’ : 34.)

iii) Ahli- ahli bait muslim perlu iltizam dengan pakaian Islam mengikut batasannya yang paling minima yang diizinkan oleh Islam itu sendiri. Itu satu kewajipan yang mesti dilaksanakan dan satu hak yang mesti di jaga oleh wanita. Ini adalah dalam peringkat proses tarbiyah untuk sampai kepada matlamat tersebut . Pakaian wanita itu mestilah besar sedikit tidak boleh menampakkan bentuk badan dan tidak boleh jarang.

Anak-anak perempuan kita perlu lahir dalam suasana tarbiyah ini. Ibulah yang menjadi ikutan dalam hal ini. Rumahtangga muslim juga tidak akan masuk di dalamnya benda benda yang tidak di izinkan oleh Allah s.w.t. Tidak bergantung di dinding rumahnya sesuatu yang di haramkan oleh Islam.

Pintu rumah al-bait al-muslim tidak terbuka luas sehingga ternampak terdedah apa yang ada di dalamnya. Jendela jendela rumah mereka juga berlangsi. Dan langsir itu juga tertutup dengan elok ,tidak jarang (tidak sehingga ternampak dari luar).

Dalam sirah Rasullullah SAW rumah baginda pun berlangsir. Rasullullah menyuruh membuang langsir yang ada gambar-gambar manusia dan binatang padanya.

Rumahtangga muslim ialah rumahtangga yang betul betul iltizam dengan dasar dasar yang diadakan oleh ikhwan al muslimin, sebagai satu kesempurnaan Islam pada semua hal sama ada dalam msyarakat rumahtangga dan sebagainya.

Cara hidup anggota-angota ikhwan al muslimin menzahirkan kesempurnaan Islam itu sendiri. Corak hidup anggota ikhwan berhubung terus dengen sifat sifat dalam “syurut Ta-dhaif wal tausiq” (syarat syara lemah dan kuat dalam keanggotaan harakah Islamiyah). Sebab itu Al- Imam Hassan al Banna mewajibkan di dalam rumah itu mabdak Islam (ideologi Islam).

iv) Al-bait al-muslim merupakan keluarga yang menyediakan anak-anak mereka sebelum balighnya dengan perkara-perkara yang perlu di didik iaitu tentang “Aqidah Islam”,”Ibadah Islam ” untuk mereka laksanakan hak-hak mereka terhadap Allah SWT apabila Baligh dengan cara yang betul.

v) Rumah tangga muslim juga jauh daripada keadaan mewah ( yakni kemewahan yang membinasakan ) dan juga daripada sesuatu yang tidak Islamik.

Dengan ini Asy-Syahid telah memperuntukkan tanggungjawab kepada Al akh al mujaddid dengan :

a) mesti mempunyai sifat zuhud dan menjauhkan diri daripada sifat sifat muta’ah iaitu keseronokkan ,kelazatan kemewahan yang fana.

b) begitu juga hendaklah jauh daripada sesuatu perkara yang tidak Islamik sama ada dalam ibadah ,pergaulan dan sebagainya. Jadi tugasnya ialah untuk mentarbiyah anak-anak dan orang-orang di bawah tanggungannya dari segi tindak tanduk,tingkahlaku perangai dan menasihati orang- orang yang hubungan kerabat dengan mereka . Dapat juga kita lihat betapa ramai anak-anak muslim yang kurang dijaga untuk disalurkan kepada Islam.

Ibu bapa yang sentiasa dianggap sebagai masal patut sentiasa sedar dan faham tentang hal ini dan sentiasa memperhatikan marhalah atau tahap persediaan baligh.

Sesuatu yang wajib dilakukan oleh seorang muslim selepas baligh ( mereka perlu di latih tentang perkara tersebut sebelum mereka baligh. ). Seorang muslim mukallaf dibebankan dengan urusan urusan yang banyak dalam aqidah, ibadah ,adab akhlak dan pergaulan. Begitu juga dia dipertanggungjawabkan dengan jihad dengan persediaan yang tertentu ini memerlukan kepada latihan jasmani,jiwa dan juga aqal.

Seseorang muslim tidak sepatutnya menjadi beban kepada orang lain. Ini memerlukan seseorang muslim itu mempunyai pekerjaan. Ibu bapa perlu mengajar dan menyediakan anak anak mereka dalam hal ini .Begitu juga ibu bapa perlu mendidik anak anak mereka supaya kasih kepada ahli-ahli Islam dengan mempertingkatkan iman mereka dan melatih mereka beribadah.

Sesungguhnya Rasullullah menyuruh kita melatih anak anak kita supaya solah apabila berumur 7 tahun dia dipukul sekiranya tidak solah ketika mereka berumur 10 tahun. Begitu juga di qiaskan dengan puasa. Sekiranya anak anak yang tiada ibu bapa yang memberi tanggungjawab maka kita yakni harakah kita yang bertanggungjawab. Ditekankan di sini kepada anak anak perempuan di mana mereka di jadikan untuk menjadi isteri. Fungsi tugas dan peranan mereka ialah untuk menjadi isteri. Tabiat mereka mestilah tabiat Islam dalam semua aspek.

Sumber: http://baitulmuslimhm.wordpress.com/2008/11/25/ciri-ciri-keluarga-muslim/